[IMK 12] – Pengukuran Kepuasan Pengguna dalam Desain UI/UX

Dalam era digital ini, kepuasan pengguna memainkan peran penting dalam keberhasilan produk. Tanpa pemahaman yang baik tentang apa yang diinginkan dan dibutuhkan pengguna, sebuah produk dapat dengan cepat kehilangan daya tariknya. Itulah mengapa, mengukur kepuasan pengguna menjadi esensial. Blog ini akan membahas tentang pengukuran kepuasan pengguna dalam konteks UI (User Interface) dan UX (User Experience), serta teknik-teknik yang digunakan untuk melakukannya.


Apa itu UI dan UX?

Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita pahami dulu apa itu UI dan UX. UI adalah antarmuka pengguna yang melibatkan desain visual dari produk. Ini mencakup warna, tata letak, dan elemen visual lainnya yang berinteraksi langsung dengan pengguna. Sedangkan UX adalah pengalaman pengguna secara keseluruhan ketika berinteraksi dengan produk tersebut. UX lebih fokus pada perasaan pengguna saat menggunakan produk, memastikan setiap langkahnya logis dan mudah dimengerti.

Perbedaan UI dan UX

Untuk memahami perbedaan antara UI dan UX, mari kita lihat contoh sederhana: sebuah botol saus tomat. Desain UI dari botol ini mencakup tampilan luar botol, label, dan cara pengguna memegang botol tersebut. UX, di sisi lain, mencakup bagaimana pengguna merasakan kemudahan dalam menuangkan saus dari botol tersebut. Botol tradisional yang sulit menuangkan isinya bisa membuat pengguna frustrasi, sementara botol yang didesain ulang dengan lebih baik bisa memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan dan efisien.

Aspek yang Mempengaruhi Desain UI

  1. Kejelasan: Semua elemen UI harus jelas dan mudah dimengerti.
  2. Familiaritas: Gunakan elemen yang sudah dikenal oleh pengguna.
  3. Konsistensi: Pastikan desain konsisten di seluruh produk.
  4. Efisiensi: UI harus memungkinkan pengguna mencapai tujuan dengan cepat dan mudah.

Aspek-Aspek yang Mempengaruhi Desain UX

  1. Aksesibilitas: Produk harus mudah diakses oleh berbagai jenis pengguna.
  2. Visibilitas: Pengguna harus selalu diinformasikan tentang status dan proses dalam sistem.
  3. Kebebasan: Pengguna harus memiliki opsi untuk membatalkan atau mengulang tindakan mereka.
  4. Fleksibilitas: UX harus bisa menyesuaikan dengan berbagai tipe pengguna.
  5. Desain Minimalis: Desain harus estetis namun tidak berlebihan, fokus pada elemen yang penting.

Teknik Mengukur Kepuasan Pengguna

1. Skala Likert

Skala Likert, yang dipopulerkan oleh Rensis Likert, merupakan skala psikometrik untuk mengukur opini atau perasaan responden. Pada pengukuran usability, responden diminta untuk menyatakan tingkat persetujuan mereka terhadap pernyataan tertentu, biasanya dengan pilihan dari "Sangat Tidak Setuju" hingga "Sangat Setuju". Skala ini memberikan pandangan tentang kepuasan pengguna dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki.

2. Task Level Satisfaction (Tingkat Kepuasan Tugas)

Teknik ini mengukur kepuasan pengguna berdasarkan kesulitan tugas yang diberikan. Setelah menyelesaikan tugas tertentu, pengguna diminta untuk mengisi kuesioner post-test seperti Single Ease Question (SEQ) yang hanya terdiri dari satu pertanyaan per skenario. Ini membantu dalam menilai kemudahan penggunaan dari tugas-tugas spesifik dalam produk.

3. System Usability Scale (SUS)

Kuesioner SUS dikembangkan oleh John Brooke pada tahun 1986 dan telah digunakan lebih dari 25 tahun. SUS sangat populer karena:
  • Cepat dan murah
  • Memberikan hasil yang konsisten
  • Mudah dipahami dengan skor antara 0-100
  • Valid dan reliabel meski dengan sampel kecil
SUS menggunakan 10 pertanyaan dengan skala likert 5 poin dan hasil akhirnya diubah menjadi skor 0-100.

4. Usability Metrix for User Experience (UMUX)

UMUX adalah alternatif yang lebih singkat dari SUS, berisi empat pertanyaan dengan skala Likert 7 poin. Dua pertanyaan positif dan dua pertanyaan negatif digunakan untuk menilai kegunaan yang dirasakan oleh pengguna. UMUX cocok untuk survei cepat dan memberikan wawasan yang berguna tentang pengalaman pengguna.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama